Selasa, 13 November 2018

Haramkah Mengucapkan Selamat Natal.?

Haramkah Mengucapkan Selamat Natal.?

Ucapan selamat natal oleh banyak kalangan memang diharamkan, bahkan sampai ada yang mengirim SMS kepada kami dengan kalimat pembuka: INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN: saya denger dari Elshintasi fulantelah mengucapkan ucapan selamat natal...

Menurut pengirim SMS itu, ucapan selamat natal itu kontra produktif dengan fatwa MUI tahun 1984.

Sikap kami sendiri tentu juga tidak mengucapkan selamat natal kepada para pemeluk agama kristiani. Selain ada fatwa yang mengharamkannya, juga mengucapkannya saat ini jadi akan salah waktu. Sebab Nabi Isa 'alaihissalam tidak lahir pada tanggal 25 Desember, beliau lahir di musim panas saat kurma berbuah, sebagaimana isyarat di dalam ayat Al-Quran saat Ibunda Maryam melahirkannya di bawah pohon kurma. Saat itu Allah SWT berfirma kepadanya:

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (QS. Maryam: 25)

Jelas sekali Nabi Isa lahir di saat buah kurma masak, dan itu tidak terjadi di musim salju. Kecuali kalau mau dipaksakan sebuah kebohongan baru lagi. Misalnya dikatakan bahwa Nabi Isa 'alaihissalam merupakan penduduk Australia yang berada di Selatan Katulistiwa, di mana tanggal 25 Desember seperti sekarang ini di sana justru sedang musim panas. Tapi itupun salah, sebab di Australia tidak ada pohon kurma, yang ada mungkin pohon kaktus.

Atau bisa saja lahirnya nabi Isa tetap pada tanggal 25 Desember, tetapi syaratnya kejadiannya harus di Indonesia, karena pada tanggal seperti itu di Indonesia tidak ada musim panas atau musim dingin. Di Indonesia ada musim duren. Tapi yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah buah kurma, bukan buah duren. Lagian, masak Maryam sehabis melahirkan malah makan duren? Aya aya wae.



Perbedaan Pendapat Ucapan Selamat Natal

Tentang hukum ucapan selamat natal itu, memang kalau kita mau telusuri lebih jauh, kita akan bertemu dengan beragam pendapat. Ada ulama yang mengharamkannya secara mutlak. Tapi ada juga yang membolehkannya dengan beberapa hujjah. Dan juga ada pendapat yang agak di pertengahan serta memilah masalah secara rinci.

Tentu bukan berniat untuk memperkeruh keadaan kalau kami sampaikan apa yang beredar di tengah umat tentang hal ini. Sebaliknya, kajian ini justru untuk memperluas wawasan kita dalam menuntut ilmu, wabil khusus tentang urusan yang agak khusus ini.

1. Pendapat Haramnya Ucapan Selamat Natal Bagi Muslim
Haramnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal itu terutama dimotori oleh fatwa para ulama di Saudi Arabia, yaitu fatwa Al-'Allamah Syeikh Al-Utsaimin. Beliau dalam fatwanya menukil pendapat Imam Ibnul Qayyim

1. 1. Fatwa Syeikh Al-'Utsaimin
Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403), disebutkan bahwa:

Memberi selamat kepada merekahukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah.

Hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syari’atnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad SAW telah diutus dengannya untuk semua makhluk.

1. 2. Fatwa Ibnul Qayyim
Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan."


1. 3. Fatwa MUI?
Sedangkan terkait dengan fatwa MUI tentang haramnya mengucapkan selamat natal, ketika mencari dokumennya ternyata kami kesulitan mendapatkannya. Konon kabarnya fatwa itu dikeluarkan pada tahun 1984, seperti yang ada dalam SMS yang kami terima.

Tetapi setelah dibrowse di situs MUI (www.mui.or.id) maupun di buku Kumpulan Fatwa MUI yang kami miliki, fatwa haram itu tidak kami temukan. Yang kami temukan hanyalah fatwa tentang haramnya melakukan natal bersama.

Sebaliknya, kami malah mendapatkanberita yang agak kontradiktif dengan apa yang dianggap sebagaisikap MUI selama ini. Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu memang pernah menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen (ritual) Natal.

"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam, " katanya.

Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani."

Jadi mohon kepada MUI atau barangkali ada pembaca Eramuslim yang punya salinan fatwa tersebut, tentu kami akan sangat berterima kasih bila berkenan mengirimkannya kepada kami.

2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan
Selain pendapat yang tegas mengharamkan di atas, kita juga menemukan fatwa sebagian dari ulama yang cenderung tidak mengharamkan ucapan tahni'ah kepada umat nasrani.

Yang menarik, ternyata yang bersikap seperti ini bukan hanya dari kalangan liberalis atau sekuleris, melainkan dari tokoh sekaliber Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Tentunya sikap beliau itu bukan berarti harus selalu kita ikuti.

2. 1. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi
Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah saat perayaan agama lainnya.

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa': 86)

Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

2.2. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'
Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.



2.3 Majelis Fatwa dan Riset Eropa
Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

3. Pendapat Pertengahan
Di luar dari perbedaan pendapat dari dua 'kubu' di atas, kita juga menemukan fatwa yang agak dipertengahan, tidak mengharamkan secara mutlak tapi juga tidak membolehkan secara mutlak juga. Sehingga yang dilakukan adalah memilah-milah antara ucapa yang benar-benar haram dan ucapan yang masih bisa ditolelir.

Salah satunya adalah fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said, beliau adalah profesor di bidang Ilmu Tafsir dan Ulumul-Quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

3.1. Tahni'ah yang halal adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

Contohnya ucapan, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda di hari ini." Beliau cenderung membolehkan ucapan seperti ini.

3.2. Tahni'ah yang haram adalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."

Beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

Kesimpulan:
Sebagai awam, ketika melihat para ulama berbeda pandangan, tentu kita harus arif dan bijaksana. Kita tetap wajib menghormati perbedaan pendapat itu, baik kepada pihak yang fatwanya sesuai dengan pendapat kita, atau pun kepada yang berbeda dengan selera kita.

Karena para ulama tidak berbeda pendapat kecuali karena memang tidak didapat dalil yang bersifat sharih dan qath'i. Seandainya ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menyebutkan: 'Alaikum bi tahni'atinnashara wal kuffar', tentu semua ulama akan sepakat.

Namun selama semua itu merupakan ijtihad dan penafsiran dari nash yang bersifat mujmal, maka seandainya benar ijtihad itu, mujtahidnya akan mendapat 2 pahala. Dan seandainya salah, maka hanya dapat 1 pahala.

Semoga kita tidak terjebak dengan suasana su'udzdzhan, semangat saling menyalahkan dengan sesama umat Islam dan membuat kemesraan yang sudah terbentuk menjadi sirna. Amin ya rabbal 'alamin.


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Lihat Juga :

Keyword : 
hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal selamat natal selamat hari natal ucapan selamat hari natal selamat natal dan tahun baru 2018 selamat natal mama selamat hari natal dan tahun baru selamat natal 2017 selamat natal dan tahun baru selamat natal mama papa selamat natal saudaraku selamat hari natal 2017 selamat natal indonesia selamat hari natal lirik selamat natal mama dan papa ucapan selamat natal 2017 dan tahun baru 2018 selamat hari natal chord selamat natal papa dan mama chord ucapan selamat natal untuk teman selamat natal 2018 selamat natal bahasa inggris selamat natal bahasa jawa selamat natal papa dan mama lirik selamat natal sayang selamat natal sayangku selamat natal mama lirik foto selamat natal selamat natal gif selamat natal mama mp3 selamat natal semoga selamat natal ucapan selamat natal bagi yang merayakan selamat natal mama victor hutabarat selamat natal saudaraku lirik selamat natal semoga damai ucapan selamat natal lucu kata selamat natal 2017 selamat natal dalam bahasa inggris selamat natal dalam berbagai bahasa selamat natal indonesia mp3 selamat natal saudaraku mp3 ucapan selamat natal untuk orang tua foto selamat natal 2017 selamat natal dalam bahasa jawa selamat natal dan tahun baru 2017 selamat natal mama victor hutabarat mp3 download ucapan selamat natal romantis ucapan selamat natal yang bagus selamat natal bahasa arab selamat natal bahasa jepang selamat natal buat pacar selamat natal dalam bahasa korea selamat natal lucu selamat natal papua selamat natal quotes ucapan selamat natal bahasa jawa halus ucapan selamat natal buat orang tua ucapan selamat natal dari orang muslim ucapan selamat natal whatsapp ucapan selamat natal yang indah selamat natal 2017 & tahun baru 2018 selamat natal andar ismail selamat natal bahasa jerman selamat natal dalam bahasa jepang selamat natal gambar selamat natal papa mp3 selamat natal penebusku selamat natal tahun 2017 selamat natal untuk keluarga selamat natal untuk pacar selamat natal untukmu sayangku mp3 ucapan selamat natal dari orang islam ucapan selamat natal gambar ucapan selamat natal gokil ucapan selamat natal orang islam ucapan selamat natal rohani ucapan selamat natal yg bagus hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal hukum mengucapkan selamat natal menurut al quran pernahkah rasulullah mengucapkan selamat natal

Rabu, 07 November 2018

Apakah Rebo Wekasan Itu HARI SIAL.?

Apakah Rebo Wekasan Itu HARI SIAL.?

Apakah Rebo Wekasan Itu HARI SIAL.?

Surabaya, NU Online
Masyarakat muslim di Tanah Air masih dihinggapi sejumlah kepercayaan warisan ajaran agama terdahulu. Termasuk adanya Rabu sial yang dikenal sebagai Rabu Wekasan. Pada saat itulah sejumlah masyarakat berkeyakinan diturunkannya sejumlah bencana.

"Rabu wekasan atau yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai rebo wekasan adalah tradisi yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar," kata Ustadz Ma'ruf Khozin, Sabtu (19/11) petang. Sejumlah ritual dilakukan guna memohon perlindungan dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura, lanjutnya.

Terhadap kepercyaan adanya waktu sial, salah seorang anggota Dewan Pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut mengingatkan agar jangan percaya. "Sial atau tidaknya seseorang sangat bergantung kepada keyakinan yang bersangkutan," katanya pada kegiatan Kajian Islam Ahlussunnah Waljamaah atau Kiswah di mushalla PWNU Jatim

"Karena orang yang merasa sial, maka kesialan yang dikhawatirkan akan terjadi," kata alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut. Demikian pula mereka yang meyakini tidak akan ada yang memberikan bahaya dan manfaat kecuali Allah SWT, maka segala hal tidak akan memberikan pengaruh, rincinya.

Ustadz Ma'ruf, sapaan akrabnya, tidak menampik kalau ada hadits yang digunakan sebagai pembenar ibadah khusus di rabu wekasan tersebut. "Tapi hadits tersebut dhaif," katanya. Kendati demikian, berbagai ibadah dapat dilakukan, akan tetapi bukan semata karena rabu wekasan tersebut, jelasnya.

Sejumlah ulama, termasuk Hadrarussyaikh KHM Hasyim Asy'ari melarang ibadah seperti shalat khusus yang diperuntukkan karena Rabu naas tersebut. "Karenanya sejumlah kiai mengisi malam itu dengan shalat hajat, bukan shalat khusus rabu wekasan," tandasnya.

Di akhir paparannya, Ustadz Ma'ruf menyatakan boleh saja orang menyebut waktu itu sebagai Rabu sial dengan tujuan mendidik supaya bertaubat kepada Allah SWT. Hal itu dapat dilakukan agar tidak ditimpa adzab atau bencana seperti kaum terdahulu. "Kegiatan yang disarankan adalah dengan memanjatkan doa tolak balak, sedekah, membaca al-Qur'am dan ibadah lain termasuk pasrah dan percaya kepada Allah SWT," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)


Lihat Juga :

Keyword :
rebo wekasan adalah rabu wekasan 2017 jatuh pada tanggal rebo wekasan 2017 rebo wekasan dalam islam rebo wekasan menurut islam doa rebo wekasan arab hukum rebo wekasan rajah rebo wekasan wafaq rebo wekasan amalan rebo wekasan nu doa rebo wekasan beserta artinya isim rebo wekasan amalan rebo wekasan bulan safar hadits rebo wekasan rebo wekasan itu apa doa rebo wekasan latin hukum rebo wekasan menurut islam rebo wekasan 2016 rebo wekasan 2016 jatuh pada tanggal rebo wekasan dalam pandangan islam rebo wekasan membaca yasin rebo wekasan menurut nu rebo wekasan menurut ulama nu rebo wekasan tahun 2016 riwayat rebo wekasan rebo wekasan adalah rabu wekasan 2017 jatuh pada tanggal rebo wekasan 2017 rebo wekasan dalam islam rebo wekasan menurut islam doa rebo wekasan arab hukum rebo wekasan rajah rebo wekasan wafaq rebo wekasan amalan rebo wekasan nu doa rebo wekasan beserta artinya isim rebo wekasan amalan rebo wekasan bulan safar hadits rebo wekasan rebo wekasan itu apa doa rebo wekasan latin hukum rebo wekasan menurut islam rebo wekasan 2016 rebo wekasan 2016 jatuh pada tanggal rebo wekasan dalam pandangan islam rebo wekasan membaca yasin rebo wekasan menurut nu rebo wekasan menurut ulama nu rebo wekasan tahun 2016 riwayat rebo wekasan Menghilangkan Kerutan Pada Wajah Kenapa Kita Mendo'akan Rasulullah S.A.W Hukum Cadar Dalam Islam Penjelasan Tentang Pendapat Rebo Wekasan HARTA MENURUT ISLAM 7 Makanan Penambah Darah Dengan Cepat 7 Makanan Penderita Kanker Rahim Info Seputar Darah Rendah Cara Memutihkan Wajah Pria dan Wanita Alami

Senin, 29 Oktober 2018

Hukum Mengambil Air Masjid Untuk Kepentingan Pribadi

Hukum Mengambil Air Masjid Untuk Kepentingan Pribadi

Hukum Mengambil Air Masjid Untuk Kepentingan Pribadi

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum, mohon penjelasannya bagaimana kah hukumnya mengambil air dari sumur masjid untuk kepentingan pribadi ?

( Dari : Nova Ch Elfarizi )

Jawaban :
Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Ketika waqif (orang yang mewakafkan) meng-ijmalkan (tidak memberikan batasan) atas benda yang ia wakafkan unruk masjid, maka diperbolehkan mengambil air sumur dari sumur masjid tersebut karena dicukupkan dengan tradisi yang berlaku dimana masyarakat umum biasa mengambil air sumur masjid untuk kepentingan pribadi.

Tapi apabila waqif memberi batasan (qoyyid) bahwa benda yang diwakafkan hanya boleh dipakai untuk kepentingan masjid, maka tidak diperbolehkan mengambil air sumur masjid untuk kepentingan pribadi. Wallahu a'lam.

( Dijawab oleh :   Al Murtadho dan Su Kakov )

Referensi :
1. Tuhfah al Muhtaj juz 6 hal. 260

حيث أجمل الواقف شرطه اتبع فيه العرف المطرد في زمنه؛ لأنه بمنزلة شرطه ثم ما كان أقرب إلى مقاصد الواقفين كما يدل عليه كلامهم ومن ثم امتنع في السقايات المسبلة على الطرق غير الشرب ونقل الماء منها ولو للشرب وظاهر كلام بعضهم اعتبار العرف المطرد الآن في شيء فيعمل به أي عملا بالاستصحاب المقلوب؛ لأن الظاهر وجوده في زمن الواقف وإنما يقرب العمل به حيث انتفى كل من الأولين

Lihat Asli : FIKIH KONTEMPORER

Lihat Juga :

Keyword :
hukum menggunakan air masjid untuk pribadi manfaat air masjid kelebihan air 7 masjid larangan menggunakan fasilitas masjid hukum menggunakan barang masjid hukum menggunakan fasilitas masjid untuk keperluan pribadi hukum meminjam peralatan masjid hukum menggunakan listrik masjid hukum menggunakan air masjid untuk kepentingan pribadi hukum menggunakan air masjid untuk pribadi manfaat air masjid kelebihan air 7 masjid larangan menggunakan fasilitas masjid hukum menggunakan barang masjid hukum menggunakan fasilitas masjid untuk keperluan pribadi hukum meminjam peralatan masjid hukum menggunakan listrik masjid hukum menggunakan air masjid untuk kepentingan pribadi hukum menggunakan air masjid untuk pribadi manfaat air masjid kelebihan air 7 masjid larangan menggunakan fasilitas masjid hukum menggunakan barang masjid hukum menggunakan fasilitas masjid untuk keperluan pribadi hukum meminjam peralatan masjid hukum menggunakan listrik masjid hukum menggunakan air masjid untuk kepentingan pribadi hukum menggunakan air masjid untuk pribadi manfaat air masjid kelebihan air 7 masjid larangan menggunakan fasilitas masjid hukum menggunakan barang masjid hukum menggunakan fasilitas masjid untuk keperluan pribadi hukum meminjam peralatan masjid hukum menggunakan listrik masjid hukum menggunakan air masjid untuk kepentingan pribadi Cream Pencerah Wajah Remaja Aman Produk Untuk Kulit Kusam dan Hitam Alami 6 Gejala Penyakit Kelenjar Getah Bening Budaya Politik Dalam Bernegara SKILL Cristiano Ronaldo 2005/2006 SEJARAH AKUNTANSI Pengertian Istishna

Sabtu, 06 Oktober 2018

Ayat tentang Hoax (Tafsir Surat an-Nur Ayat 15)

Ayat tentang Hoax (Tafsir Surat an-Nur Ayat 15)

Surat al-Nur ayat 15 ini turun sebagai respon dan sekaligus jawaban atas kegelisahan Rasulullah. Ketika itu Rasul bingung bagaimana menyikapi fitnah atau berita bohong yang disebarluaskan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay ini menuduh Aisyah berduaan dengan Shafwan bin al-Mu’aththal al-Sulami.

Di tengah kebingungan itu, setelah menunggu lama, Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad melalui surat al-Nur ayat 11 sampai 22 bahwa Aisyah benar dan tidak berbohong. Yang berbohong itu justru kaum munafik seperti Abdullah bin Ubay. Sejak diturunkan surat al-Nur tersebut Rasulullah lega dan bahagia.

Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari surat al-Nur ayat 11 sampai 22 ini adalah larangan untuk menyebarluaskan informasi yang belum jelas kebenarannya, apalagi kalau sampai menuduh orang dan menyakiti hati orang lain. Dalam al-Nur ayat 15, Allah SWT berfirman: 

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS: Al-Nur ayat 15)

Allah SWT mengecam perilaku orang-orang yang menyebarluaskan informasi tanpa mengetahui detail persoalan dan kebenaran informasi tersebut. Ketika menerima informasi sebaiknya diperiksa dulu dan diteliti ulang kebenarannya. Ibnu Asyur dalam tafsir Tahrir wa al-Tanwir mengingatkan bahwa adab seorang muslim adalah tidak menyampaikan apa yang dia tidak ketahui dan belum pasti kebenarannya. Jangan biasakan membicarakan dan menyebarluaskan informasi yang tidak kita ketahui kebenaran dan kepastiannya.

Menurut Ibnu Asyur, orang yang suka menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya itu kemungkinan ada dua sebab: pertama, kurang cerdas, dia menyampaikan apa saja yang belum jelas duduk perkaranya. Orang seberti ini termasuk sebagai pembohong. Dalam hadis disebutkan, “Seorang termasuk pembohong bila menyampaikan setiap apa saja yang didengarnya”.

Kemungkinan kedua adalah mereka orang munafik, yaitu menyembunyikan kebenaran yang diyakininya dan menyampaikan informasi bohong yang sebetulnya dia sendiri tidak tahu kebenarannya.

Supaya kita tidak termasuk dua kelompok ini, pembohong dan munafik, telitilah kebenaran sebuah informasi sebelum menyampaikan dan menyebarluaskannya ke orang lain. Kalau memang tidak tahu kebenarannya lebih baik diam, tidak berkomentar, dan tidak menyebarkannya.

Asli : Tafsir Surat al-Nur Ayat 15 Tentang Larangan Menyebarkan Berita Bohong


Keyword :
ayat alquran tentang hoaxayat berita hoax ayat hoax ayat mengenai hoax ayat quran tentang hoax ayat tentang berita hoax ayat tentang hoax ayat yang menjelaskan tentang berita hoax ayat alkitab tentang hoax ayat alquran tentang hoax ayat berita hoax ayat hoax ayat mengenai hoax ayat quran tentang hoax ayat tentang berita hoax ayat tentang hoax ayat yang menjelaskan tentang berita hoax ayat alkitab tentang hoax ayat alquran tentang hoax ayat berita hoax ayat hoax ayat mengenai hoax ayat quran tentang hoax ayat tentang berita hoax ayat tentang hoax ayat yang menjelaskan tentang berita hoax hoax hoax adalah hoax artinya hoax analyzer hoax membangun hoax indonesia hoax 2018 hoax di indonesia hoax itu apa hoax news hoax aspartame hoax gempa lombok hoax kesehatan hoax or not hoax gempa hoax kominfo hoax terbesar hoax detector hoax radiasi hp hoax film 2018 hoax penculikan anak hoax telur ikan hoax 2017 hoax berita hoax tentang jokowi hoax tentang kesehatan hoax yayasan miracle hope hoax hari ini hoax apa artinya hoax gempa jawa hoax logo hoax pilpres hoax cpns 2018 hoax presiden uruguay masuk islam hoax masako mengandung babi Info Singkat Pertumbuhan Ekonomi MENGENAL INFLASI | APA ITU INFLASI.? Apakah Kita Tidak Perlu Bermadzhab.? Atasi Kemiskinan Dengan Bersedekah Manfaat Besar Menikah Muda, Jadi Tak Perlu Takut Sejarah Berdiri dan Perjuangan HMI Free Download KItab Bidayah Wan Nihayah - Imam Ibnu Katsir PDF Apa Itu Syaraf Kejepit.? | Mengenal Syarif Kejepit 4 Jenis Makanan Yang Baik Untuk Penderita Tipes Cara Menghilangkan Flek Hitam Di Wajah Yang Membandel Cara Menghilangkan Kerutan dan Ketuaan di Wajah Cara Mengobati Ambeien Secara Alami Tanpa Obat Cara Jitu Menghilangkan Amandel Dengan Cepat THE CITY SPENDS THE WORLD'S AGRICULTURAL LAND Dampak Diet Vegetarian Terhadap Sperma Warna Lagit Tidak Biru 5 Gejala dan Tanda Awal kehamilan Dampak Poligami Terhadap Kesehatan Sang Istri

Senin, 17 September 2018

NU dan Muhammadiyah - KH. Hasyim Muzadi

NU dan Muhammadiyah - KH. Hasyim Muzadi

Di emperan masjid selepas sembahyang Maghrib, Julkipli menghampiri teman ngopinya, Durakim. Belum sempurna Durakim menyandarkan punggung ke tembok, pertanyaan berat disodorkan kepada dirinya.

"Dur, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila, bukan negara Islam?"

"Menurut siapa dulu: NU atau Muhammadiyah?"

"NU, deh."

"Hukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan."

"Kalau menurut Muhammadiyah?"

"Sama."

Julkipli melempar pertanyaan berikutnya, "Kalau melawan Pancasila, boleh tidak? Kan bukan Al-Qur'an?"

"Menurut NU atau Muhammadiyah?"

"Muhammadiyah, coba."

"Tidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji," jawab Durakim.

"Kalau menurut NU?"

"Sama."

Sampai di sini, Julkipli mulai jengkel. Ia merasa dikerjain Durakim. Jawaban menurut NU dan Muhammadiuah kok selalu 'sama'. Asem betul kawan satu ini.

"Kamu gimana sih, Dur. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kamu suruh aku milih 'menurut NU atau Muhammadiyah'?"

"Ya... kita harus dudukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, Jul. Nggak boleh serampangan."

"Serampangan bagaimana?" sahut Julkipli.

"Kalau Muhammadiyah itu kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah." Durakim membetulkan kopiahnya

"Lha, kalau NU?"

"Sama."

sumber : nu.or.id

Lihat Juga :

Keyword :
perbedaan sholat nu dan muhammadiyah, sejarah nu dan muhammadiyah, nu muhammadiyah mana yang benar, debat nu muhammadiyah, cara menyikapi perbedaan nu dan muhammadiyah, nahdlatul ulama, nu dan muhammadiyah, nu dan muhammadiyah, nu dan muhammadiyah,

Strategi Dakwah Sunan Kali Jaga - Dr. H. Fachrudin Faiz


Sunan Kalijaga bisa dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga yang melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu, di mana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan-kepercayaan lama melakukan pendekatan seni dan budaya. Dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up todate, nut jaman kelakone (menurut semangat zaman). Ia mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Sunan Kalijaga memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Buddha. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa, dan harta benda serta trauma. Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah dengan style mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tata cara, dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah, maka Nusantara, khususnya pulau Jawa, diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia. 

Sebagai ulama, budayawan, dan sekaligus seniman, Sunan Kalijaga menciptakan banyak karya seni, di mana itu menggambarkan pendiriannya. Dia menciptakan dua perangkat gamelan,yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang, yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu, dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit. Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Di  antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, dan Petruk Dadi Ratu.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang  Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam. Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur.

Ketika masyarakat Jawa sedang mengalami zaman peralihan, dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu-Buddha atau  Syiwa-Buddha, Kapitayan, dan percaya bahkan banyak yang memuja roh-roh halus. Mereka juga sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut. Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali, dan diberi sebutan atau nama panggilan “Sunan”. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga. Mereka dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah menggunakan media kesenian, terutama musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa dan wayang. 

Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama, yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi, atau juga Kidung Sariro Ayu. Kepada masyarakat yang sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama Dhandanggula bernuansa meditatif-kontemplatif. Dikemas dan diberi sugesti sebagai mantra sakti, guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Suluk Kidung Kawedar, yang terdiri dari 46 pupuh atau bait ini dikenal memiliki berapa nama lain, yaitu Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, dan Kidung Rumekso Ing Wengi, sesuai bunyi teks di awal kidung, sebagaimana kita lazim menyebut Al-Ikhlâsh dengan nama Surat Qulhu, atau Surat Al-Insyirâh dengan sebutan Surat Alam Nasyrah. Kidung Kawedar adalah sebuah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang pengungkapannya dilakukan dengan menyanyi, yang disebut sebagai macapat, dalam irama Dhandanggula. Macapat sebagai metrum atau irama puisi Jawa, berasal dari kata maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membacanya berirama dalam setiap empat suku kata.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar sekaligus sakti mandraguna ini. Kidung ini mampu menjaga kita di malam hari, melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu diri dan hak milik kita. Dengan piawinya, Njeng Sunan Kali meramu Kidung Kawedar dengan pembukaan yang pas untuk semua orang di setiap jaman, lebih-lebih waktu itu, yakni keselamatan. Islam sendiri bermakna selamat dan pasrah kepada kehendak Allah. Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna mistis, magis untuk menolak bala: penyakit, bencana dan gangguan makhluk halus. Guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu dan tanah wingit dan hama penyakit semuanya menyingkir, tidak mempan. Perawan tua dapat segera dapat jodoh dan orang gila dapat sembuh.Semua musuh menjadi sayang, jatuh cinta kepada membaca kidung ini.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir. Siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan menjadi bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi nan keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada yang perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan gaib sang kidung yang luar biasa, seolah bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering. Dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa, yang percaya adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam. 

Siapa yang membaca kidung ini akan dijaga oleh para malaikat dan rasul, yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Semua “manunggal”, menyatu dalam dirinya. Sejumlah nama nabi disebut: Adam sebagai hati, Syits sebagai otak, Musa sebagai ucapan, Isa sebagai nafas, Yakub sebagai telinga, Yusuf sebagai rupa, Daud sebagaisuara, Sulaiman sebagai kesaktian, Ibrahim sebagai nyawa, Idris sebagai rambut, Nuh di jantung, Yunus di otot dan Muhammad (saw) sebagai mata/penglihatan. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini. Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Syits dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh, dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, sekaligus menjelaskan hikmah dan karamahnya di dalam diri manusia, apabila mempercayai dan mampu menghayatinya. Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna. Disebut juga nama para sahabat dan keluarga Muhammad telah menyatu dalam dirinya. Patimah (Fatimah) putri Nabi Muhammad sebagai sumsum, Baginda Ngali (Ali) kulit, Abubakar darah, Ngumar (Umar) daging dan Ngusman (Usman) sebagai tulangnya.


Dalam Suluk Kidung Kawedar ini Sunan Kalijaga juga memperkenalkan beberapa surat dan ayat Al-Qur'an, yang dianggap ampuh. Di antaranya surat Al-Ikhlas, yang disebutnya Surat Kulhu, karena dibuka dengan Qulhu, surat An’Aam, yang disebut suratul Ngam Ngam. Maklum, orang Jawa dulu sulit mengucap bunyi huruf Arab ‘ain. Sehingga, ada orang Jawa yang namanya Sangidu (dari Sayyidu), Sangit (dari Sayyid),  Fatongah (dari Fathonah). Ayat Kursi yang dikenal luasampuh untuk mengusir segala macam godaan juga disebut. Kidung itu diyakini begitu ampuh, hingga jika dibaca di laut, air laut pun mengering (segara asat).Mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang tertulis dan dipercaya banyak orang untuk mencapai keselamatan hidup.

Sunan Kali juga mengenalkan Allah, sebutan Tuhan dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Al-Qur'an. Orang Jawa sebelummya sudah mempunyai beberapa sebutan untuk Tuhan, seperti Pangeran, Gusti Pangeran, Hyang Widhi Wasa, Hyang Kang Murbeng Dumadi, Gusti Kang Maha Kuwasa, Hyang Tunggal (nama dewa dalam pewayangan), Hyang Suksma Kawekas dan setelah Islam masuk, yang sering digunakan adalah Gusti Allah. Beberapa sebutan itu dipakai Sunan Kali. Maksud dari berbagai sebutan nama Tuhan itu adalah sama, yakni Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Maha Esa itu seperti disebut  dalam Suratul Kulhu. (Lebih lengkap soal Tafsir Suluk Kidung Kawedar bisa dipelajari dari buku Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, karya: B. Wiwoho, terbitan Pustaka IIMaN, 2017).

Sangat menarik mendaras dan memahami Suluk Kidung Kawedar ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin  ke sini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara  tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau, setidaknya tradisi bid’ah.

Inilah desain dakwah Islam yang rahmatan lil alamin. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Seyogyanya para pendakwah di zaman ini meniru “Jurus” Sunan Kalijaga dalam menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid sebagaimana isi dari Kidung Kawedar. Sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.




Lihat Juga : 
Apa Hukum Oral Sex Dalam Islam.? (menjilati klitoris istri)

Keyword :
keturunan sunan kalijaga, sunan kalijaga biografi, sejarah hidup sunan kalijaga, kesaktian sunan kalijaga, ajaran sunan kalijaga, wafatnya sunan kalijaga, biografi sunan kalijaga singkat, sunan kalijaga wikipedia, keturunan sunan kalijaga, sunan kalijaga biografi, sejarah hidup sunan kalijaga, kesaktian sunan kalijaga, ajaran sunan kalijaga, wafatnya sunan kalijaga, biografi sunan kalijaga singkat, sunan kalijaga wikipedia

source : antontasik.com