Senin, 12 November 2018

Pentingnya Bermazhab | Mazhab Dalam Islam

Pentingnya Bermadzhab

Pentingnya Bermazhab | Mazhab Dalam Islam

Pertanyaan : Assalamualaikum wr. wb.
Pak Ustaz, dalam Islam kita kenal 4 mazhab. Kenapa cuma 4 yang selama ini kita kenal? Bukankah masih banyak para ulama lain yang mungkin juga pantas untuk punya mazhab sendiri. Imam Ghozali dengan Ihya Ulumuddin-nya (sebuah maha karya masa itu) beliau tidak dikenal memiliki mazhab. Dan beliau hidup pada zaman apa?
Jazakumullah kh. ktsr.  

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara bahasa arti mazhab adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba - yazhabu - zihaaban . Mahzab adalah isim makan dan isim zaman dari akar kata tersebut.

Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiyah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabawiyah. Mazhab yang kita maksudnya di sini adalah mazhab fiqih.

Mazhab Tidak Hanya Empat Saja

Sesungguhnya mazhab fiqih itu bukan hanya ada 4 saja, tetapi masih ada banyak lagi yang lainnya. Bahkan jumlahnya bisa mencapai puluhan. Namun yang terkenal hingga sekarang ini memang hanya 4 saja.

Padahal kita juga mengenal mazhab selain yang 4 seperti:

  • Mahab Al-Ibadhiyah yang didirikan oleh Jabir bin Zaid (w 93 H).
  • Mahab Az-Zaidiyah yang didirikan oleh Zaid bin Ali Zainal Abidin (w 122H),
  • Mazhab Azh-Zahiriyah yang didirikan oleh Daud bion Ali Azh-Zhahiri (202 - 270 H)
  • dan mazhab-mazhab lainnya.
Sedangkan yang kita kenal 4 mazhab sekarang ini adalah karena keempatnya merupakan mazhab yang telah terbukti sepanjang zaman bisa tetap bertahan, padahal usianya sudah lebih dari 1.000 tahun.

Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah adalah empat dari sekian puluh mazhab yang pernah berkembang di masa kejayaan fiqih dan mampu bertahan hingga sekarang ini.

Di dalamnya terdapat ratusan tokohulama ahliyang meneruskan dan melanggengkan mazhab gurunya. Dan masing-masing memiliki pengikut yang jumlahnya paling besar, serta mampu bertahan dalam waktu yang sangat lama.

Para ulama mazhab itu kemudian menulis kitab yang tebal-tebal dalam jumlah yang sangat banyak, kemudiandiajarkan kepada banyak umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Kitab-kitab itu sampai hari ini masih dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam, seperti di Al-Azhar Mesir, Jami'ah Islamiyah Madinah, Jami'ah Al-Imam Muhammad Ibnu Suud Riyadh, Jamiah Ummul Qura Makkah dan di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Bahkan di Al-Azhar dibuka fakultas Syariah dengan jurusan dari masing-masing mazhab yang empat itu.

Sementara puluhan mazhab lainnyamungkin terlalu sedikit pengikutnya, atau tidak punya ulama yang sekaliber pendirinya yang mampu meneruskan kiprah mazhab itu, atau tidak mampu bertahan bersama bergulirnya zaman. Sehingga banyak di antaranya yang kita tidak mengenalnya, kecuali lewat kitab-kitab klasik yang menyiratkan adanya mazhab tersebut di zamannya.

Buku mereka sendiri mungkin sudah lenyap dari muka bumi, atau barangkali ikut terbakar ketika pasukan Mongol datang meratakan Baghdad dengan tanah. Sebagian yang masih tersisa mungkin malah disimpan di musium di Eropa. Memang sungguh sayang sekali, ilmu yang pernah ditemukan dan berkembang besar, kemudian lenyap begitu saja di telan bumi.

Pentingnya Bermazhab

Banyak orang salah sangka bahwa adanya mazhab fiqih itu berarti sama dengan perpecahan, sebagaimana berpecah umat lain dalam sekte-sekte. Sehingga ada dari sebagian umat Islam yang menjauhkan diri dari bermazhab, bahkan ada yang sampai anti mazhab.

Penggambaran yang absurd tentang mazhab ini terjadi karena keawaman dan kekurangan informasi yang benar tentang hakikat mahzab fiqih. Kenyataannya sebenarnya tidak demikian. Mazhab-mazhab fiqih itu bukan representasi dari perpecahan atau pereseteruan, apalagi peperangan di dalam tubuh umat Islam.

Sebaliknya, adanya mazhab itu memang merupakan kebutuhan asasi untuk bisa kembali kepada Al-Quan dan As-Sunnah. Kalau ada seorang bernama MasPaijo, mas Paimin, mas Tugirin dan mas Wakijan bersikap yang anti mazhab dan mengatakan hanya akan menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah saja, sebenarnya mereka masing-masing sudah menciptakan sebuah mazhab baru, yaitu mazhab Al-Paijoiyah, Al-Paiminiyah, At-Tugiriniyah dan Al-Wakijaniyah.

Sebab yang namanya mazhab itu adalah sebuah sikap dan cara seseorang dalam memahami teks Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap orang yang berupaya untuk memahami kedua sumber ajaran Islam itu, pada hakikatnya sedang bermazhab.

Kalau tidak mengacu kepada mazhab orang lain yang sudah ada, maka minimal dia mengacu kepada mazhab dirinya sendiri. Walhasil, tidak ada di dunia ini orang yang tidak bermazhab. Semua orang bermazhab, baik dia sadari atau tanpa disadarinya.

Lalu bolehkah seseorang mendirikan mazhab sendiri?

Jawabnya tentu saja boleh, asalkan dia mampu meng-istimbath (menyimpulkan) sendiri setiap detail ayat Al-Quran dan As-sunnah. Kalau kita buat sedikit perumpamaan dengan dunia komputer, maka adanya mazhab-mazhab itu ibarat seseorang dalam berkomputer, di mana setiap orang pastimemerlukan sistem operasi (OS).

Tidak mungkin seseorang menggunakan komputer tanpa sistem operasi, baik Windows, Linux, Mac OS atau yang lainnya. Adanya beragam sistem operasi di dunia komputer menjadi hal yang mutlak bagi setiap user, sebab tanpa sistem operasi, manusia hanya bicara dengan mesin.

Kalau ada orang yang agak eksentrik dan bertekad tidak mau pakai Windows, Linux, Mac Os atau sistem operasi lain yang telah tersedia, tentu saja dia berhak sepenuhnya untuk bersikap demikian. Namun dia tentu perlu membuat sendiri sistem operasi itu, yang tentunya tidak terlalu praktis.

Apalagi buat orang-orang kebanyakan, rasanya terlalu mengada-ada kalau harus membuat dulu sistem operasi sendiri. Bahkan seorang programer level advance sekalipun belum tentu mau bersusah payah melakukannya. Buat apa merepotkan diri bikin sistem operasi, lalu apa salahnya sistem operasi yang sudah tersedia di pasaran.

Tentu masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan. Tapi yang jelas, akan menjadi sangat lebih praktis kalau kita memanfaaatkan yang sudah ada saja.

Sebab di belakang masing-masing sistem operasi itu pasti berkumpul para maniak dan geek yang bekerja 24 jam untuk kesempurnaan sistem operasinya.

Demikian juga dengan ke-4 mazhab yang ada. Di dalamnya telah berkumpul ratusan bahwa ribuan ulama ahli level tertinggi yang pernah dimiliki umat Islam, mereka bekerja siang malam untuk menghasilakn sistem fiqih Islami yang siap pakai serta user friendly. Meninggalkan mazhab-mazhab itu sama saja bikin kerjaan baru, yang hasilnya belum tentu lebih baik.

Akan tetapi boleh saja kalau ada dari putera puteri Islam yang secara khusus belajar syariah hingga ke level yang jauh lebih dalam lagi, lalu suatu saat merumuskan mazhab baru dalam fiqih Islami.

Namun seorang yang tingkat keilmuwannya sudah mendalam semacam Al-Imam al-Ghazali rahimahullah sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada, yaitu mazhab As-Syafi'iyah. Beliau tetap bermazhab meski sudah pandai mengistimbath hukum sendiri. Demikian juga dengan beragam ulama besar lainnya seperti Al-Mawardi, An-Nawawi, Al-'Izz bin Abdissalam dan lainnya.

Wallahu a'lam bishshawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

mazhab dalam islam 4 mazhab dalam islam perbedaan mazhab dalam islam sejarah mazhab dalam islam 4 mazhab dalam agama islam mazhab mazhab dalam islam empat mazhab dalam islam apa itu mazhab dalam islam mazhab dalam islam pdf makalah mazhab dalam islam mazhab dalam ekonomi islam mazhab dalam hukum islam pengertian mazhab dalam islam mazhab dalam agama islam 5 mazhab dalam islam arti mazhab dalam islam jumlah mazhab dalam islam macam mazhab dalam islam mazhab dalam islam ada berapa pengertian mazhab fiqih dalam islam perbedaan 4 mazhab dalam islam maksud mazhab dalam islam mazhab dalam islam dan pendirinya mengenal mazhab dalam islam sejarah 4 mazhab dalam islam 4 mazhab dalam syariat islam beserta tokohnya 4 nama imam mazhab dalam islam

Senin, 17 September 2018

NU dan Muhammadiyah - KH. Hasyim Muzadi

NU dan Muhammadiyah - KH. Hasyim Muzadi

Di emperan masjid selepas sembahyang Maghrib, Julkipli menghampiri teman ngopinya, Durakim. Belum sempurna Durakim menyandarkan punggung ke tembok, pertanyaan berat disodorkan kepada dirinya.

"Dur, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila, bukan negara Islam?"

"Menurut siapa dulu: NU atau Muhammadiyah?"

"NU, deh."

"Hukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan."

"Kalau menurut Muhammadiyah?"

"Sama."

Julkipli melempar pertanyaan berikutnya, "Kalau melawan Pancasila, boleh tidak? Kan bukan Al-Qur'an?"

"Menurut NU atau Muhammadiyah?"

"Muhammadiyah, coba."

"Tidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji," jawab Durakim.

"Kalau menurut NU?"

"Sama."

Sampai di sini, Julkipli mulai jengkel. Ia merasa dikerjain Durakim. Jawaban menurut NU dan Muhammadiuah kok selalu 'sama'. Asem betul kawan satu ini.

"Kamu gimana sih, Dur. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kamu suruh aku milih 'menurut NU atau Muhammadiyah'?"

"Ya... kita harus dudukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, Jul. Nggak boleh serampangan."

"Serampangan bagaimana?" sahut Julkipli.

"Kalau Muhammadiyah itu kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah." Durakim membetulkan kopiahnya

"Lha, kalau NU?"

"Sama."

sumber : nu.or.id

Lihat Juga :

Keyword :
perbedaan sholat nu dan muhammadiyah, sejarah nu dan muhammadiyah, nu muhammadiyah mana yang benar, debat nu muhammadiyah, cara menyikapi perbedaan nu dan muhammadiyah, nahdlatul ulama, nu dan muhammadiyah, nu dan muhammadiyah, nu dan muhammadiyah,

Strategi Dakwah Sunan Kali Jaga - Dr. H. Fachrudin Faiz


Sunan Kalijaga bisa dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga yang melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu, di mana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan-kepercayaan lama melakukan pendekatan seni dan budaya. Dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up todate, nut jaman kelakone (menurut semangat zaman). Ia mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Sunan Kalijaga memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Buddha. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa, dan harta benda serta trauma. Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah dengan style mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tata cara, dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah, maka Nusantara, khususnya pulau Jawa, diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia. 

Sebagai ulama, budayawan, dan sekaligus seniman, Sunan Kalijaga menciptakan banyak karya seni, di mana itu menggambarkan pendiriannya. Dia menciptakan dua perangkat gamelan,yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang, yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu, dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit. Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Di  antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, dan Petruk Dadi Ratu.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang  Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam. Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur.

Ketika masyarakat Jawa sedang mengalami zaman peralihan, dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu-Buddha atau  Syiwa-Buddha, Kapitayan, dan percaya bahkan banyak yang memuja roh-roh halus. Mereka juga sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut. Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali, dan diberi sebutan atau nama panggilan “Sunan”. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga. Mereka dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah menggunakan media kesenian, terutama musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa dan wayang. 

Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama, yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi, atau juga Kidung Sariro Ayu. Kepada masyarakat yang sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama Dhandanggula bernuansa meditatif-kontemplatif. Dikemas dan diberi sugesti sebagai mantra sakti, guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Suluk Kidung Kawedar, yang terdiri dari 46 pupuh atau bait ini dikenal memiliki berapa nama lain, yaitu Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, dan Kidung Rumekso Ing Wengi, sesuai bunyi teks di awal kidung, sebagaimana kita lazim menyebut Al-Ikhlâsh dengan nama Surat Qulhu, atau Surat Al-Insyirâh dengan sebutan Surat Alam Nasyrah. Kidung Kawedar adalah sebuah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang pengungkapannya dilakukan dengan menyanyi, yang disebut sebagai macapat, dalam irama Dhandanggula. Macapat sebagai metrum atau irama puisi Jawa, berasal dari kata maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membacanya berirama dalam setiap empat suku kata.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar sekaligus sakti mandraguna ini. Kidung ini mampu menjaga kita di malam hari, melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu diri dan hak milik kita. Dengan piawinya, Njeng Sunan Kali meramu Kidung Kawedar dengan pembukaan yang pas untuk semua orang di setiap jaman, lebih-lebih waktu itu, yakni keselamatan. Islam sendiri bermakna selamat dan pasrah kepada kehendak Allah. Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna mistis, magis untuk menolak bala: penyakit, bencana dan gangguan makhluk halus. Guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu dan tanah wingit dan hama penyakit semuanya menyingkir, tidak mempan. Perawan tua dapat segera dapat jodoh dan orang gila dapat sembuh.Semua musuh menjadi sayang, jatuh cinta kepada membaca kidung ini.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir. Siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan menjadi bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi nan keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada yang perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan gaib sang kidung yang luar biasa, seolah bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering. Dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa, yang percaya adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam. 

Siapa yang membaca kidung ini akan dijaga oleh para malaikat dan rasul, yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Semua “manunggal”, menyatu dalam dirinya. Sejumlah nama nabi disebut: Adam sebagai hati, Syits sebagai otak, Musa sebagai ucapan, Isa sebagai nafas, Yakub sebagai telinga, Yusuf sebagai rupa, Daud sebagaisuara, Sulaiman sebagai kesaktian, Ibrahim sebagai nyawa, Idris sebagai rambut, Nuh di jantung, Yunus di otot dan Muhammad (saw) sebagai mata/penglihatan. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini. Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Syits dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh, dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, sekaligus menjelaskan hikmah dan karamahnya di dalam diri manusia, apabila mempercayai dan mampu menghayatinya. Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna. Disebut juga nama para sahabat dan keluarga Muhammad telah menyatu dalam dirinya. Patimah (Fatimah) putri Nabi Muhammad sebagai sumsum, Baginda Ngali (Ali) kulit, Abubakar darah, Ngumar (Umar) daging dan Ngusman (Usman) sebagai tulangnya.


Dalam Suluk Kidung Kawedar ini Sunan Kalijaga juga memperkenalkan beberapa surat dan ayat Al-Qur'an, yang dianggap ampuh. Di antaranya surat Al-Ikhlas, yang disebutnya Surat Kulhu, karena dibuka dengan Qulhu, surat An’Aam, yang disebut suratul Ngam Ngam. Maklum, orang Jawa dulu sulit mengucap bunyi huruf Arab ‘ain. Sehingga, ada orang Jawa yang namanya Sangidu (dari Sayyidu), Sangit (dari Sayyid),  Fatongah (dari Fathonah). Ayat Kursi yang dikenal luasampuh untuk mengusir segala macam godaan juga disebut. Kidung itu diyakini begitu ampuh, hingga jika dibaca di laut, air laut pun mengering (segara asat).Mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang tertulis dan dipercaya banyak orang untuk mencapai keselamatan hidup.

Sunan Kali juga mengenalkan Allah, sebutan Tuhan dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Al-Qur'an. Orang Jawa sebelummya sudah mempunyai beberapa sebutan untuk Tuhan, seperti Pangeran, Gusti Pangeran, Hyang Widhi Wasa, Hyang Kang Murbeng Dumadi, Gusti Kang Maha Kuwasa, Hyang Tunggal (nama dewa dalam pewayangan), Hyang Suksma Kawekas dan setelah Islam masuk, yang sering digunakan adalah Gusti Allah. Beberapa sebutan itu dipakai Sunan Kali. Maksud dari berbagai sebutan nama Tuhan itu adalah sama, yakni Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Maha Esa itu seperti disebut  dalam Suratul Kulhu. (Lebih lengkap soal Tafsir Suluk Kidung Kawedar bisa dipelajari dari buku Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, karya: B. Wiwoho, terbitan Pustaka IIMaN, 2017).

Sangat menarik mendaras dan memahami Suluk Kidung Kawedar ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin  ke sini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara  tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau, setidaknya tradisi bid’ah.

Inilah desain dakwah Islam yang rahmatan lil alamin. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Seyogyanya para pendakwah di zaman ini meniru “Jurus” Sunan Kalijaga dalam menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid sebagaimana isi dari Kidung Kawedar. Sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.




Lihat Juga : 
Apa Hukum Oral Sex Dalam Islam.? (menjilati klitoris istri)

Keyword :
keturunan sunan kalijaga, sunan kalijaga biografi, sejarah hidup sunan kalijaga, kesaktian sunan kalijaga, ajaran sunan kalijaga, wafatnya sunan kalijaga, biografi sunan kalijaga singkat, sunan kalijaga wikipedia, keturunan sunan kalijaga, sunan kalijaga biografi, sejarah hidup sunan kalijaga, kesaktian sunan kalijaga, ajaran sunan kalijaga, wafatnya sunan kalijaga, biografi sunan kalijaga singkat, sunan kalijaga wikipedia

source : antontasik.com

Senin, 07 Agustus 2017

Islam Indonesia dan Peradaban Islam di Dunia

Islam Indonesia dan Peradaban Islam di Dunia

Islam Indonesia dan Peradaban Islam di Dunia

Jangan Lupa Untuk Mengunjungi MUI.OR.ID

Assalmu'alaikum,, Warahmatullahi,, Wabarakaatuh..
Terima kasih telah mengunjungi Web Kami.

Budayakanlah Membaca Hingga Selesai

Islam Indonesia dan Peradaban Islam di Dunia

Bismillahirrahmanirrahim.
sudah kita ketahui bahwa para Ulama memiliki peran penting dalam sejarah pendirian dan penentuan sistem di negara ini. Ikhtiariah dan hasil kesepakatan Ulama menghasilkan perumusan Pancasila dan UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai wujud tanggung jawab terhadap umat dan wujud kecintaan terhadap tanah air (hubbul wathan) sehingga umat Islam dan agama lainnya bisa beribadah dengan tenang, aman dan tenteram dalam perbedaan dan keberagaman.

Dewasa ini, umat islam sedang dihadapkan dengan beberapa kelompok yang mengedepankan tektualis skripturalis yang menjadikan ideologi pemahaman serta gerakannya didasarkan pada nash secara literal. Sehingga pemahaman tekstualis dari nash inilah yang menjadi dasar pemahaman kelompok mereka. Namun mereka juga tidak pernah untuk berusaha membawa nash tersebut kepada konteksnya. Sehingga kelompok ini bergerak secara kaku, rigid, intoleran dan ekslusif, serta mudah mengkafirkan kelompok yang berbeda pemahamannya dengan mereka. Sehingga mudah terjadinya konflik dan menyatakan permusuhan terhadap sesama muslim yang tidak sepaham dengan mereka.

Di sisi lain pun muncul kelompok yang mengedepankan kontekstualisasi dalam memahami nash secara berlebihan dengan alasan untuk menyelaraskan ajaran Islam dengan perkembangannya zaman. Maka munculah dari pemahaman ini suatu kelompok yang keluar dalam pemahaman nash yang sebenarnya sehingga terlihat lebih permisif dan juga liberal, bahkan kelompok ini berani untuk menggugat nash yang qath’i dan juga mulai menafsirkan nash hanya dengan pendekatan akalnya saja.

Pemahaman kedua kelompok ini tergolong sebagai kelompok ekstrim (tatharruf), yakni tatharruf yasari (ekstrim kiri)  dan yamini (ekstrim kanan). Pemahaman kedua kelompok ini sangatlah bertentangan dengan wujd ideal dalam menjalankan syariat Islam di Indonesia dan dunia. Pemahaman kedua kelompok tersebut sangatlah mudah untuk masuk dan menyebar di Indonesia yang didukung dengan adanya gerakan transnasionalisme dan juga kebebasan dalam berpendapat.

KONFLIK TIMUR TENGAH (SUNNI-SYI’AH)
Konflik yang telah terjadi ditimur tengah yang sudah terjadi dari 6 tahun yang lalu yang terjadi karena dampak dari proxy war. Proxy war ini bukanlah hal atau istilah yang baru, tapi adalah istilah yang mulai dimunculkan kembali. Pemain dari konflik tersebut adalah Rusia dan Amerika sebagai pemain politik global. Setelah Uni Soviet terpecah belah hingga bubar, maka Rusia menjadikan Iran sebagai proxy negaranya dan Amerika menjadikan Saudi Arabia menjadi proxynya.

Kedua negara adidaya sang pemain politik global ini jika dihadapkan dan berperang secara langsung akan sangat membahayakan bagi umat manusia, maka mereka menggunakan proxy proxy (Iran-Saudi). Dan tentunya hal ini juga didasari dengan beberapa kepentingan, yaitu
1. Untuk menguji seberapa kuat produk militer mereka
2. Membuat lambatnya pertumbuhan perekonomian umat Islam yang sangat pesat
3. Menjadi sebuah peringatan untuk negara-negara yang ingin mejadi pesaing negara tersebut seperti China dan India.

Dan hasilnya terjadi konflik yang sangat hebat diantara proxy proxy yang dimainkan oleh negara pemain (Rusia-Amerika) tersebut.

Amerika, di dalam pergerakan permainan politiknya, maka diciptakanlah ISIS untuk menjadikan lambatnya ekspansionisme di Iran. Yang dijual oleh amerika adalah konflik lama the main trigger dari konflik, yaitu konflik antara Sunni dan Syiah. Hal ini dijadikan sebuah alasan karena Iran, Irak, Libanon, Syiria dan Bahrain memiliki komunitas syiah yang tumbuh signifikan. Di Negara Bahrain 70 % dari penduduknya adalah syiah namun rajanya adalah sunni. Di Syiria 90 % sunni 10 % syiah dan presidennya Syiah, nah inilah yang sedang dimainkan oleh Amerika.

Kenapa di Bahrain tidak terlalu terlihat terjadinya konflik.?
Ini dikarenakan Amerika dibawah kekuasan partai demokrat, secara divide and rolenya begitu sangat kuat. Sehingga terjadilah dengan apa yang kita kenal selama ini, yaitu the Arab Spring yang dimulai pada tahun 2011 dibawah kuasa Leadership of Democratic Party and United States.

Jika Amerika berada dibawah kekuasan Partai Republik, maka biasanya kan langsung melakukan hantaman fisik dengan menggunakan militer. Tapi dibawah Demokrat hal itu tidak dilakukan, tapi dilakukan dengan cara memecah belas secara perlahan dan transparan. Akhirnya Amerika pun menjual gagasan dari ide itu kepada Arab Saudi. Arab Saudi pun menganggap bahwa ini adalah ibaratkan angin baru. Maka apa yang terjadi setelah terjadinya Arab Spring.? Yang terjadi justru Arab Saudi menjadi hancur. Ekonomi Arab Saudi menjadi berantakan. Dari segi trust, yang terjadi adalah distrust among the arab community. Dalam sejarahnya, maka inilah pertama kalinya Arab Saudi menjadi berantakan.

Syria belum kalah, maka ditambah lagi dengan negara Yaman. Syiria hancur, Yaman hancur, Libya hancur dan Saudi pun menjadi oleng dalam hal perekonomian karena dihabiskan untuk membeli persenjataan. Siapakah yang diuntungkan.? Yang diuntungkan adalah Yahudi, karena Yahudi adalah pemilik pabrik persenjataan amunisi dan juga alutsista. Mereka bergembira karena semakin panjangnya perang maka semakin banyak mereka meraup keuntungan. Maka ini adalah sangat berbahaya.

Maka, siapakah korban dari Konflik ini.?, Jawabannya adalah PALESTINA. Karena secara tidak langsung Amerika-Saudi menjadi donatur ISRAEL untuk terus menghancurkan negara jajahannya, yaitu PALESTINA.

PELAJARAN DALAM MEMANDANGI KONFLIK (SUNNI-SYIAH)
Umat Islam di Indonesia jangan mengikuti permainan yang sedang dimainkan oleh dua negara pemain tersebut. Kita harus lebih bersikap waspada, kita juga harus bersikap toleransi dengan adanya perbedaan pendapat. Serta menjaga dan menghormati perbedaan mazhab yang ada. Jika dilihat dari sejarah, kita akan mengenal Imam Ja’far As-Shadiq (pendiri Madhab Ja’fari -Syi’ah Ja’fari-) adalah guru dari Imam Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi). Imam Abu hanifah banyak belajar dari Imam Ja’far Ashadiq dalam ilmu fiqih sedangkan Imam Abu Hanifah tahu jika Imam Ja’far As-Shadiq adalah Syi’ah. Imam Abu Hanifah menghargai dan menghormati perbedaan tersebut.

BANYAKNYA PERMINTAAN FATWA SESAT UNTUK SYI’AH DI MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Jika dilihat dampak negatif dari konflik yang terjadi oleh negara pemain dan juga proxy nya, maka terjadilah kegaduhan baru hingga kegaduhan tersebut singgah kenegara Indonesia ini. Jika MUI menyatakan FATWA SESAT untuk SYI’AH, maka ini bisa menjadi masalah baru. Maka MUI memiliki sejumlah pertimbangan, seperti :
  • OKI (organisasi Islam Dunia), yang memiliki jumlah negara lebih dari 47 negara, dan tidak ada satu pun negara yang mengeluarkan fatwa kesesatan syi’ah.
  • Saudi Arabia, memiliki sepuluh hingga lima belas persen dari penduduknya yang syiah, mereka pun tidak mengatakan syi’ah sesat dan tidak pula mengeluarkan fatwa kesesatan syiah. Bahkan Syi’ah masih diperbolehkan untuk Umroh dan haji.

Jika MUI mengeluarkan fatwa kesesatan syi’ah, maka yang akan terjadi adalah sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Apa yang akan negara Arab saudi atau negara yang berkumpul di OKI katakan.? Jika itu terjadi, akan menjadikan Indonesia menjadi sendirian. Dan inilah yang harus MUI dan kita pertimbangkan.

Hal ini bukan karena Indonesia mendukung Syi’ah atau Sebagai Agen Syi’ah. Namun ini dilakukan agar konflik yang terjadi di Timur tengah tidak serta merta menjadi konflik di Negara Indonesia karena akan memecah belah Indonesis menjadi beberapa bagian yang lebih besar lagi.

Seharusnya kita bisa lebih waspada, karena kantong-kantong atu proxy-proxy dari perpecahan itu mulai dimunculkan. Dari mulai organisasi, partai, dan beberapa kelompok yang intoleran harus segera dibenahi, jika tidak ini bisa sangat memudahkan menjatuhkan dan memecah belah negara Indonesia. Namun yang harus diperhatikan adalah jangan menuduh dengan mengatakan “intoleran” sembarangan. Karena hal ini juga membahayakan karena bisa secara tidak langsung kita masuk dalam permainan politik global tersebut.

Jika kita mampu untuk menjaga toleransi kepada Umat lain, maka kita harus lebih bertoleransi kepada Umat kita sendiri, dengan alasan : karena perpecahan yang terjadi di timur tengah dikarenakan pemahaman kelompok mereka dalam memahami Agama yang berbeda serta tidak adanya toleransi. Sehingga stigma “SYI’AH BUKAN ISLAM”  menjadi hidangan utama yang mulai dimunculkan. Karena mengganggap SYI’AH BUKAN ISLAM, maka mereka pun melancarkan serangan untuk MENUDUH SYI’AH kepada orang lain. SYI’AH BUKAN ISLAM dan MENUDUH orang lain sebagai SYI’AH, maka terjadi perang saudara antara sesama Ahlussunnah Wal-Jama’ah (WAHABI dan SUNNI MODERAT).

Jika dilihat dari kenyataan, bahwa anda akan menemukan Al-Qur’an Sunni di Indonesia dan Al-Qur’an yang dipakai oleh SYI’Ah di Iran masih sama teksnya. Hanya ada segelintir Syi’ah yang tidak menggunakan Al-Qur’an. Ingat.! Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah pula yang menjaganya. Sehingga golongan syi’ah yang sesat pun ada, namun hanya segelintir saja sehingga kita (sunni) tidak boleh memukul rata semua Syi'ah.

Di SUNNI pun sama, ada beberapa golongan yang Ekstrim dan sesat, sehingga kelompok ini pun dikeluarkan melalui KONFERENSI AHLUSUNNAH yang dilakukan di CHECHNYA yang mengeluarkan Sunni Radikal (Wahabi Takfiri) dari AHLUSUNNAH Wal-Jama’ah karena sangat berbahaya bagi Peradaban Muslim Sunni dan juga peradaban Islam di Dunia.

Wallahu'alam Bishawaab...

Semoga Bermanfaat.

Lihat Juga :