Senin, 17 September 2018

Strategi Dakwah Sunan Kali Jaga - Dr. H. Fachrudin Faiz


Sunan Kalijaga bisa dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga yang melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu, di mana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan-kepercayaan lama melakukan pendekatan seni dan budaya. Dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up todate, nut jaman kelakone (menurut semangat zaman). Ia mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Sunan Kalijaga memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Buddha. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa, dan harta benda serta trauma. Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah dengan style mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tata cara, dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah, maka Nusantara, khususnya pulau Jawa, diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia. 

Sebagai ulama, budayawan, dan sekaligus seniman, Sunan Kalijaga menciptakan banyak karya seni, di mana itu menggambarkan pendiriannya. Dia menciptakan dua perangkat gamelan,yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang, yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu, dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit. Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Di  antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, dan Petruk Dadi Ratu.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang  Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam. Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur.

Ketika masyarakat Jawa sedang mengalami zaman peralihan, dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu-Buddha atau  Syiwa-Buddha, Kapitayan, dan percaya bahkan banyak yang memuja roh-roh halus. Mereka juga sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut. Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali, dan diberi sebutan atau nama panggilan “Sunan”. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga. Mereka dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah menggunakan media kesenian, terutama musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa dan wayang. 

Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama, yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi, atau juga Kidung Sariro Ayu. Kepada masyarakat yang sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama Dhandanggula bernuansa meditatif-kontemplatif. Dikemas dan diberi sugesti sebagai mantra sakti, guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Suluk Kidung Kawedar, yang terdiri dari 46 pupuh atau bait ini dikenal memiliki berapa nama lain, yaitu Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, dan Kidung Rumekso Ing Wengi, sesuai bunyi teks di awal kidung, sebagaimana kita lazim menyebut Al-Ikhlâsh dengan nama Surat Qulhu, atau Surat Al-Insyirâh dengan sebutan Surat Alam Nasyrah. Kidung Kawedar adalah sebuah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang pengungkapannya dilakukan dengan menyanyi, yang disebut sebagai macapat, dalam irama Dhandanggula. Macapat sebagai metrum atau irama puisi Jawa, berasal dari kata maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membacanya berirama dalam setiap empat suku kata.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar sekaligus sakti mandraguna ini. Kidung ini mampu menjaga kita di malam hari, melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu diri dan hak milik kita. Dengan piawinya, Njeng Sunan Kali meramu Kidung Kawedar dengan pembukaan yang pas untuk semua orang di setiap jaman, lebih-lebih waktu itu, yakni keselamatan. Islam sendiri bermakna selamat dan pasrah kepada kehendak Allah. Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna mistis, magis untuk menolak bala: penyakit, bencana dan gangguan makhluk halus. Guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu dan tanah wingit dan hama penyakit semuanya menyingkir, tidak mempan. Perawan tua dapat segera dapat jodoh dan orang gila dapat sembuh.Semua musuh menjadi sayang, jatuh cinta kepada membaca kidung ini.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir. Siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan menjadi bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi nan keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada yang perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan gaib sang kidung yang luar biasa, seolah bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering. Dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa, yang percaya adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam. 

Siapa yang membaca kidung ini akan dijaga oleh para malaikat dan rasul, yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Semua “manunggal”, menyatu dalam dirinya. Sejumlah nama nabi disebut: Adam sebagai hati, Syits sebagai otak, Musa sebagai ucapan, Isa sebagai nafas, Yakub sebagai telinga, Yusuf sebagai rupa, Daud sebagaisuara, Sulaiman sebagai kesaktian, Ibrahim sebagai nyawa, Idris sebagai rambut, Nuh di jantung, Yunus di otot dan Muhammad (saw) sebagai mata/penglihatan. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini. Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Syits dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh, dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, sekaligus menjelaskan hikmah dan karamahnya di dalam diri manusia, apabila mempercayai dan mampu menghayatinya. Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna. Disebut juga nama para sahabat dan keluarga Muhammad telah menyatu dalam dirinya. Patimah (Fatimah) putri Nabi Muhammad sebagai sumsum, Baginda Ngali (Ali) kulit, Abubakar darah, Ngumar (Umar) daging dan Ngusman (Usman) sebagai tulangnya.


Dalam Suluk Kidung Kawedar ini Sunan Kalijaga juga memperkenalkan beberapa surat dan ayat Al-Qur'an, yang dianggap ampuh. Di antaranya surat Al-Ikhlas, yang disebutnya Surat Kulhu, karena dibuka dengan Qulhu, surat An’Aam, yang disebut suratul Ngam Ngam. Maklum, orang Jawa dulu sulit mengucap bunyi huruf Arab ‘ain. Sehingga, ada orang Jawa yang namanya Sangidu (dari Sayyidu), Sangit (dari Sayyid),  Fatongah (dari Fathonah). Ayat Kursi yang dikenal luasampuh untuk mengusir segala macam godaan juga disebut. Kidung itu diyakini begitu ampuh, hingga jika dibaca di laut, air laut pun mengering (segara asat).Mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang tertulis dan dipercaya banyak orang untuk mencapai keselamatan hidup.

Sunan Kali juga mengenalkan Allah, sebutan Tuhan dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Al-Qur'an. Orang Jawa sebelummya sudah mempunyai beberapa sebutan untuk Tuhan, seperti Pangeran, Gusti Pangeran, Hyang Widhi Wasa, Hyang Kang Murbeng Dumadi, Gusti Kang Maha Kuwasa, Hyang Tunggal (nama dewa dalam pewayangan), Hyang Suksma Kawekas dan setelah Islam masuk, yang sering digunakan adalah Gusti Allah. Beberapa sebutan itu dipakai Sunan Kali. Maksud dari berbagai sebutan nama Tuhan itu adalah sama, yakni Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Maha Esa itu seperti disebut  dalam Suratul Kulhu. (Lebih lengkap soal Tafsir Suluk Kidung Kawedar bisa dipelajari dari buku Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, karya: B. Wiwoho, terbitan Pustaka IIMaN, 2017).

Sangat menarik mendaras dan memahami Suluk Kidung Kawedar ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin  ke sini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara  tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau, setidaknya tradisi bid’ah.

Inilah desain dakwah Islam yang rahmatan lil alamin. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Seyogyanya para pendakwah di zaman ini meniru “Jurus” Sunan Kalijaga dalam menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid sebagaimana isi dari Kidung Kawedar. Sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.




Lihat Juga : 
Apa Hukum Oral Sex Dalam Islam.? (menjilati klitoris istri)

Keyword :
keturunan sunan kalijaga, sunan kalijaga biografi, sejarah hidup sunan kalijaga, kesaktian sunan kalijaga, ajaran sunan kalijaga, wafatnya sunan kalijaga, biografi sunan kalijaga singkat, sunan kalijaga wikipedia, keturunan sunan kalijaga, sunan kalijaga biografi, sejarah hidup sunan kalijaga, kesaktian sunan kalijaga, ajaran sunan kalijaga, wafatnya sunan kalijaga, biografi sunan kalijaga singkat, sunan kalijaga wikipedia

source : antontasik.com

Jumat, 17 Maret 2017

Ceramah Terakhir KH Hasyim Muzadi (Almarhum)

Ceramah Terakhir KH Hasyim Muzadi (Almarhum)

Selamat Datang di طَلَبُ الْعَلْمِ



Keyword :
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi
Kh. Hasyim Muzadi

Habib Rizieq - Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina

Habib Rizieq - Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina

Selamat Datang di طَلَبُ الْعَلْمِ



Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina
Hukum Tentang Menyebut Nabi Dengan Kata Sayyidina



Kamis, 09 Maret 2017

Apakah Orang Tua Nabi Masuk Neraka.?

Penjelasan Tentang Hukum Musik - Ustad Adi Hidayat, LC, MA




Keyword :
hukum musik
hukum musik dalam islam
hukum musik dalam islam salaf
hukum musik dan nyanyian dalam islam
hukum musik rumaysho
hukum musik menurut mui
hukum musik islami
hukum musik dalam pandangan islam
hukum musik menurut nu
hukum musik menurut persis
hukum musik haram
hukum musik aswaja
hukum musik aslibumiayu
hukum musik asy syariah
hukum musik adalah haram
hukum musik adi hidayat
hukum musik almanhaj
hukum musik ahmad sarwat
hukum musik akapela
hukum musik assunnah
hukum musik abul jauzaa
hukum musik buya yahya
hukum musik bagi islam
hukum musik bagi umat islam
hukum musik beserta dalilnya
hukum musik bagi agama islam
hukum musik boleh
hukum musik black metal
hukum musik bajakan
hukum bermain musik menurut islam
hukum bermain musik di dalam masjid
ceramah hukum musik
hukum musik dan lagu dalam islam
hukum musik didalam islam
hukum musik dalam syariat islam
hukum musik dangdut dalam islam
hukum musik dan gambar
hukum musik dan lagu
hukum musik eramuslim
hukum musik menurut empat mazhab
hukum musik firanda
hukum musik farid nu'man
hukum musik felix siauw
hukum musik rumah fiqih
hukum musik menurut fpi
hukum musik menurut fiqih
hukum musik gambus dalam islam
hukum alat musik gitar dalam islam
hukum alat musik gitar
hukum memainkan alat musik gitar
hukum bermain alat musik gitar
hukum musik menurut imam al ghazali
hukum musik halal
hukum musik hizbut tahrir
hukum musik hadroh
hukum musik hadrah
hukum musik menurut hizbut tahrir
hukum musik menurut hti
hukum musik dalam hadits
hukum alat musik hadroh
hukum musik islam
hukum musik instrumen
hukum musik imam syafi'i
hukum mendengarkan musik islami

Habib Rizieq Shihab - Apakah Itu Salafi dan Wahabi.?

Habib Rizieq Shihab - Apakah Itu Salafi dan Wahabi.?





Habib Rizieq Shihab - Apakah Itu Salafi dan Wahabi


Keyword :
Salafi Indonesia
Salafy News
Manhaj Salaf
Salafy NU
Salafi NU
Salafy Persis
Salafi Persis
Salafy Bandung]
Salafy Jakarta
Salafy Bukan Wahabi
Salafi Wahabi
Salafi Khawarij Gaya Baru
Kharij Salafi Wahabi
Ahlul Hadits
Ahlul Atsar
Pendapat Tentang Salafy
salafi adalah
salafi
salafiah
salafy indonesia
salafiyyah
salafi jihadi
salafytobat
salafi sururi
salafiyun
salafi di indonesia
salafi vs wahdah islamiyah
salafi tidak ikut demo
salafi yamani
salafy news
salafi adalah islam yang benar
salafi ahok
salafi anti demo
salafi aswaja
salafi arti
salafi atau wahabi
salafi ahlussunnah
salafi ambon
salafi anti politik
salafi bukan wahabi
salafi batam
salafi bogor
salafy balikpapan
salafi bukan teroris
salafy bandung
salafi bermazhab apa
salafi bumi datar
salafi bukan rodja
salafi banyuwangi
salafy cirebon
salafi cianjur
salafi catering
salafy cikarang
salafi cilacap
salafi centre
salafi chechnya
salafi centre manchester
salafi clothing
salafi center manchester
salafi dan wahabi
salafi demo
salafi dan nu
salafi demo 212
salafi dan sufi
salafi dan salaf
salafidb
salafi dan sunni
salafi dan khalafi
salafi ekstrim
salafi english
salafi events
salafi egypt
salafi events radio
salafi event
salafi en france
salafi ebook
salafi english lectures
salafi english websites
salafi fpi
salafy forum
salafi facebook
salafi fatwa
salafi france

Kamis, 14 April 2016

TIM Nasyid Terbaik AN NISA VOICE (MTs Mathlaul Khaer Cibeureum, Kota Tasikmalaya


TIM Nasyid Terbaik AN NISA VOICE (MTs Mathlaul Khaer Cibeureum, Kota Tasikmalaya
TIM Nasyid Terbaik AN NISA VOICE (MTs Mathlaul Khaer Cibeureum, Kota Tasikmalaya
TIM Nasyid Terbaik AN NISA VOICE (MTs Mathlaul Khaer Cibeureum, Kota Tasikmalaya
TIM Nasyid Terbaik AN NISA VOICE (MTs Mathlaul Khaer Cibeureum, Kota Tasikmalaya
TIM Nasyid Terbaik AN NISA VOICE (MTs Mathlaul Khaer Cibeureum, Kota Tasikmalaya