Jangan Merasa Paling NU | Apalagi Merasa Paling Lurus

Jangan Merasa Paling NU
Apalagi Merasa Paling Lurus
Jangan Merasa Paling NU | Apalagi Merasa Paling Lurus

Didalam Islam, bersikap Moderat adalah hal yang sangat diperluikan. Tidak merasa paling benar dan tidak merasa paling Islam adalah salah satu sikap moderat yang harus diterapkan agar hidup rukun sesama muslim bahkan berbeda kepercayaan, non muslim. Begitupun dalam berorganisasi, jangan merasa paling NU atau merasa paling benar ke-NU-annya, selama menjadi anggota dan warga Nahdliyin, kita sama-sama bertanggung jawab untuk menjaga keharmonisan Ormas terbesar tersebut. Naudhatul Ulama.

Jangan Merasa Paling NU ~ Akhir-akhir ini saya sangat aktif melirik aktifitas media sosial yang ramai dengan sarana informasi baik yang benar atau salah dalam pengambilan sumber informasi tersebut.

Ada sebuah hal yang sangat saya kecewakan, ialah tentang fenomena NU Garis Lurus yang dibenturkan paksa dengan PBNU yang aktif hingga sekarang. Saya secara pribadi tidak terlalu mempersalahkan adanya Organisasi NU Garis Lurus Tersebut. Ada berbagai hal yang bisa saya tela'ah setelah melakukan tindakan tabayyun, karena pemecahan NU yang dianggap sudah tidak lurus dengan NU Garis Lurus sangat mampu untuk menghancurkan dan memporak porandakan NU dari dalam.

Ormas terbesar di Indonesia dan juga terbesar di Dunia ini sangatlah banyak diterima masyarakat karena kemoderatannya. Namun, setelah munculnya organisasi NU Garis Lurus ini sangat bisa membahayakan NU. Fenomena NU Garis Lurus ini bisa membahayakan dan bisa terjadi adu domba didalam wilayah NU untuk menyerang NU yang dianggap tidak lurus dengan sebutan Liberal, Komunis, Syiah, Sehingga Ormas yang diagungkan ini dibenci sehingga banyak orang yang salah paham sehingga banyak pula yang ingin membubarkan Organisasi yang sudah mengakar dimasyarakat.

Fitnah Media Terhadap NU
Saat Pemilihan Gubernur Jakarta, banyak media yang menyatakan bahwa NU memilih dan mendukung Pemimpin Non Muslim. Setelah kami Tabayyun dan menanyakan perihal tersebut kepada PC. NU Jakarta, Maka PC.NU Jakarta Menyatakan Bahwa InsyaAllah kami akan tetap Istiqamah untuk memilih dan Mendukung Pemimpin Muslim. Dan ketika PC.NU ditanyakan tentang Kabar yang tersebar di Media, maka PC.NU Jakarta menyatakan Bahwa itu disebarkan Oleh Media yang mempunyai kepentingan Politik.

Jangan Membandingkan HADROTUSSYAIKH KH HASYIM ASY’ARIE dengan KH. AGIL SIRODJ

TIDAK ETIS MEMBANDINGKAN HADROTUSSYAIKH KH HASYIM ASY’ARIE DENGAN KH SAID AGIL SIROJ "Saya warga NU. Tapi tidak suka NU pimpinan KH Said. NU sekarang sudah tidak sama dengan NU Hadlrotussyaikh Hasyim Asy’arie”.

Awalnya kita hanya tersenyum saja mendengar pernyataan “lugu” ini. Paling cuma membatin, bagaimana bisa membandingkan demikian. Jamannya saja beda. Tentu cara membawakan dan cara merawatnya juga berbeda.

Lagi pula kapan mereka ketemu dengan Hadlrotussyaikh sehingga bisa percaya diri seperti itu. Dan bukankah terpilihnya KH Said juga atas restu dari seluruh ulama sepuh, para masyayyikh pakubumi Nusantara?

Tidak mungkin kita sekarang ini menggelorakan anti produk Belanda, pakai sandal teklek, mukena harus jahitan tangan, membentuk laskar sabilillah bersenjata, mengeluarkan resolusi jihad, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan. Saat ini jamannya mengisi kemerdekaan dan merangkul semua golongan. NU bukan saja NU itu sendiri melainkan telah menjelma sebagai tiang penyangga utama utuh tegaknya NKRI.

Namun, ketika gema ini semakin santer dibarengi dengan berbagai cacimaki, ghibah dan fitnah kepada Guru Mulia KH Said Agil Siroj, maka perlulah kita menjelaskan duduk permasalahannya. Mereka yang sibuk berisik itu apakah tidak tahu bahwa kedudukan Hadlrotussyaikh itu tidak sepadan dengan KH Said Agil. Jadi, bagaimana bisa membandingkannya?

Apakah mereka tidak tahu bahwa Hadlrotussyaikh sebagai Rois Akbar itu digantikan oleh KH Wahab Hasbullah (selanjutnya disebut Rois Aam), kemudian KH Bisri Syansuri, dilanjutkan KH Ali Maksum, lalu KH Ahmad Shiddiq. Setelah itu berturut-turut KH Ali Yafie, KH Ilyas Rukhyat, KH Sahal Mahfudz, KH Musthofa Bisri. Dan saat ini posisi ini diamanahkan kepada KH Makruf Amin.

Sementara KH Said Agil Siroj adalah ketua Tanfidziyah penerus dari KH Hasyim Muzadi yang sebelumnya dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid, KH Idham Cholid, KH Wahid Hasyim, KH Mahfudz Shiddiq, KH Noor dan yang pertama oleh KH Hasan Gipo
Jika ibaratnya dalam NKRI, Rois Aam adalah lembaga tertinggi seperti MPR sedangkan tanfidziyah adalah lembaga pelaksana kebijakan semacam lembaga eksekutif, maka tentu Bung Karno bisa kita bandingkan dengan Pak Harto atau Pakdhe Jokowi. Bukan membandingkan Pakdhe Jokowi dengan Pak Harmoko atau Pak Zulkifli Hasan. 
So, kalau mau sejajar, maka bandingkanlah antara sesama Rois Aam dalam dinamika dari jaman ke jaman. Bukan membandingkan Hadlrotussyaikh dengan KH Said Agil. Nah, jika masalah sekecil ini saja belum faham, maka mohon maaf jika kita patut meragukan para pencaci itu sebagai warga NU tulen.


Bersikaf Tasamuh
Bersikaf Tasamuh (toleran) adalah khittah dari organisasi ini. Jika perbedaan pendapat Ulama saja kita diharuskan untuk toleransi, apalagi jika berbeda pendapat dalam perbedaan pemahaman dalam ber-Organisasi.


Ingat.! Ada banyak yang cemburu terhadap kemashuran NU, jadi tolong jaga NU baik-baik.

Jangan Merasa Paling NU | Apalagi Merasa Paling Lurus

Jazakallah Ahsanal Jaza...


Lihat Juga Yang Lainnya :


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »